Another
Heart
“Mungkin kau pernah membuat jantung
seseorang yang kau sayangi berhenti berdetak karena kesalahan mu, tapi tanpa
kau sadari kau berhasil membuat jantung yang lainnya berdetak, dan jantung itu
berdetak untukmu.
Aphrodite girl 13”
Cast : - Kendall Schmidt
-Emma Roberts
Hujan masih mengguyur
kota Los Angeles, di saat semua orang jauh lebih memilih untuk diam di rumah
mereka, duduk santai didepan perapian bersama keluarga mereka, maka lain halnya
dengan gadis cantik yang kini tengah berlari menembus hujan di malam hari ini.
Kedua kakinya berlari menyusuri jalan-jalan di kota Los Angles, dan menyebrang
tanpa memperhatikan rambu lalu lintas yang ada. Beberapa makian kasar terlontar
dari para pengemudi yang hampir saja menabrak tubuh rampingnya tapi yang
dilakukan gadis itu adalah terus berlari dan menggumakan kata maaf berkali-kali
tanpa menoleh.
Kedua tangannya menahan
pintu kaca rumah sakit besar yang hampir saja tertutup dan segera masuk.
Beberapa orang menyapanya tapi tak di hiraukannya, bunyi ponselnya kembali
berdering membuatnya menganggkatnya tanpa menghentikan langkahnya.
“Aku tahu, kalian
siapkan saja ruang operasinya, iya… Dokter Wales, aku sudah sampai di rumah
sakit, sebentar lagi aku kesana.” Ujar Gadis muda yang di ketahui sebagai
Dokter spesialis jantung ini. Sebenarnya dia jauh lebih memilih untuk berada di
depan perapiannya yang hangat saat ini dari pada harus repot-repot datang
kerumah sakit ini, tapi mau bagaimana lagi? ia terpaksa harus melakukan operasi
mendadak malam ini juga menggantikan pamannya yang berhalangan, bukan hanya itu
mobil miliknya pun mogok di tengah jalan membuatnya terpaksa harus berlari
menembus hujan agar bisa tiba di sini.
“Dokter Robert…” Emma
mengangguk singkat menanggapi sapaan asistent kepercayaannya sebelum masuk
keruang gantinya dan mengganti pakaiannya.
Emma sedikit terkejut saat
melihat wajah pasiennya, ia masih terlalu muda untuk seorang yang memiliki
penyakit jantung, tapi kalau tidak salah pamannya mengatakan padanya kalau pasiennya
ini menderita kelainan jantung sejak ia lahir. Malang sekali.
“Dokter anda siap?”
Tanya Asistennya, Emma hanya mengangguk dan mulai melakukan operasi itu, semoga
saja ia berhasil kali ini.
Lebih dari dua belas
jam operasi itu berjalan, Emma bisa merasakan kalau keringatnya semakin banyak,
ia tetap fokus pada operasi kali ini, berharap kalau setidaknya untuk kali ini
ia akan berhasil menyelamatkan nyawa pria ini, Gadis itu berharap kalau ia tak
akan mendengar suara mengerikan dari alat pendeteksi detak jantungnya, ia
benar-benar tak ingin mendengar lonceng kematian itu berbunyi sekali lagi.
semua ini, Pria ini dan operasi yang dia lakukan saat ini, berhasil
mengingatknanya kepada seseorang yang pergi karena kesalahan fatal yang pernah
ia lakukan.
Gadis itu menggeleng terus menyakinkan pada
dirinya sendiri kalau ia tak akan pernah membuat kesalahan yang sama. Emma
tersenyum di balik maskernya, dan menghela nafas lega, operasi berjalan lebih
dari dua belas jam dan dia berhasil. Pria in
i selamat. Emma menatap sekilas kearah Pasiennya sebelum menghilang meninggalkan ruang operasi.
Emma masuk keruang rawat pria itu dan
memeriksa keadaannya, Gadis itu mencatat sesuatu kedalam Map berwarna hijau
yang di berikan seorang suster padanya, Setelah suster itu keluar gadis itu
masih terdiam di sebelah ranjang pasiennya menatap wajahnya, otaknya kembali
mengingat memori yang telah lama ia tutup rapat, kembali, Pria ini mengingatkan
Emma kepada sosok dirinya.
“Kau tahu, kalau saja
aku bisa menyelamatkannya saat itu dia pasti sudah sembuh seperti dirimu, kau beruntung
kau memiliki semangat hidup yang lebih besar darinya. Aku sudah berusaha keras
menyelamatkan mu, jadi aku berharap kau akan sembuh dalam tahap pemulihan
nanti.” Emma kembali menatap Pria itu sebentar sebelum pergi meninggalkan ruang
rawat itu saat suster yang menemaninya memanggilnya.
Kendall membuka
matanya, pemandangan pertama yang ia lihat adalah atap ruang rawatnya. Jadi dia
selamat setelah semalam tiba-tiba dia tak sadarkan diri lagi? sial, padahal dia
sudah siap kalau dia harus mati saat itu juga, lagi pula siapa yangakan peduli?
Ia hanya akan membuat ibunya Khawatir setiap waktu, dan itu membuatnya merasa
bersalah. Pintu ruangan rawatnya terbuka dan masuk ibunya bersama seorang
wanita bersurai ke-emasan, ia menggunakan Jas dokter, Kendall tak yakin kalau
Dokter perempuan ini adalah dokter yang menanganinya, Pasalnya dokter spesialis
jantung yang menanganinya adalah Dokter Ruppert Wales, dan Dokter Adrian
Robert.
“Kau sudah sadar?
Syukurlah…” Kendall hanya bisa diam terpaku saat ibunya menghambur memeluknya
dan menangis di dalam pelukannya.
“Aku fikir kau tidak
akan selamat.” Ujarnya, Kendall menghela nafasnya, apa dia bilang? Inilah yang
membuatnya selama ini selalu merasa bersalah, selalu membuat ibunya merasa
khawatir seperti ini. Pandangan Kendall beralih kearah Gadis yang tengah
tersenyum melihatnya dan ibunya.
“Anda dokter yang
menanganiku?” Tanya Kendall, Gadis itu tersenyum lalu mengulurkan tangannya.
“Emma Robert. kau bisa
memanggil ku Emma kalau kau mau, tak perlu begitu formal, Usia kita
sama.”ujarnya, Kendall menyambut uluran tangan gadis itu.
“Kendall saja kalau
begitu.” Ujarnya singkat, Emma tersenyum dan mulai mengambil Map berisi recap
medis milik Kendall. Lalu mulai memeriksa keadaan pria itu.
“Kau masih perlu banyak
istirahat, usahakan untuk tidak memikirkan terlalu banyak masalah.” Ujarnya,
Kendall mengangguk tapi sedetik kemudian ia ingat sesuatu.
“Bisa aku keluar rumah
sakit minggu ini?” Ujarnya, Emma mengalungkan Stetoscop kelehernya dan
memandang heran pemuda di depannya.
“Aku sangat ragu untuk
hal itu Kendall, kau masih perlu menjalani beberapa perawatan sebagai tahan
pemulihan sebelum boleh keluar dari sini.” Ujar Emma.
“ada beberapa Sketsa
konsruksi gedung yang belum aku selesaikan, proyek itu bernilai milyaran US
dolar dan aku harus menyelesaikannya minggu ini juga.” Emma mendesah mendengar
perkataan laki-laki itu.
“Kita lihat
perkembanganmu nanti. Tapi ku sarankan supaya kau memberikan tugas itu
ke-assistant mu, kau belum boleh keluar dari rumah sakit minggu ini. itu hanya
saranku, Kendall. Kau bisa fikirkan itu baik-baik.” Ujar Emma, Kendall
memandang kesal gadis di hadapannya. Dia hanya seorang dokter yang merawatnya
dan itu bukan berarti dia bisa mengatur hidupnya.
Emma meninggalkan
ruangan Kendall dan langsung memeriksa beberapa Pasien berikutnya. Saat ia
kembali keruangannya, ponselnya berdering.
“Ada apa Uncle?”
Ujarnya
“Aku dengan kau melakukan operasi dadakan semalam, Bagaimana Hasilnya?”
Emma mendengus geli mendengar pertanyaan pamannya di tambah dengan nada
khawatir yang belebihan.
“dia baik-baik saja.
Operasinya beralan lancar. Kau tidak perlu setakut itu.” ujarnya, Emma
tersenyum tipis saat mendengar pamannya menghela nafas lega.
“Pastikan kalau dia tidak boleh keluar dari rumah sakit sampai minggu
depan, Emma. Aku akan berada sedikit lebih lama di New Jersey.” Emma
menghela nafasnya sebelum meng-iyakan perintah pamannya.
“aku tahu.” Ujarnya
sebelum memutus sambungan telfonnya.
Emma memutus sambungan
telfonya, Gadis itu memutar kursi yang di dudukinya hingga ia memandang taman
belakang rumah sakit dari dalam ruangannya di lantai dua. Gadis itu memangku
wajahnya dan menatap lurus kearah suatu objek yang ada di sana. Kendall yang
tengah menggambar sesuatu di sana, Emma tidak bisa melihatnya dengan Jelas.
Emma menghela nafasnya sebelum memutar balik kursinya dan melangkah keluar
ruangannya. Jadwal prakteknya bukan hanya di rumah sakit ini saja. Gadis itu
menatap sebentar kearah Kendall yang masih menggambar di taman belakangan rumah
sakit. Pria itu. Mengingatkan Emma sekali lagi kepadanya. Kepada seseorang yang
meninggalkannya karena kesalahan fatal yang ia buat.
****
Pagi ini Emma kembali
mengunjungi Kendall diruangan rawatnya ini sudah lebih dari lima hari dia
menangani pria itu. Emma tersenyum kecil melihat perkembangan yang bagus dari
pria itu, dia kembali menuliskan sesuatu dalam map berwarna hijau yang berisi
Catatan Medis milik Kendall lalu menyerahkannya kepada seorang Suster yang
membantunya.
“Kalau kau tetap
menunjukkan kemajuan seperti ini, aku rasa aku bisa saja mengizinkan mu untuk
keluar dari rumah sakit minggu ini.” Ujar Emma, Kendall tersenyum padanya.
“apa kau masih banyak
pasien hari ini?” Tanya Kendall, Emma memandang alroji milik nya dan
menggeleng.
“Ada apa?” Tanya Emma.
“kau bisa tinggal di
sini sebentar? Aku rasa aku tetarik untuk mengenalmu. Sebagai teman tentu
saja.” Ujarnya, Emma mengangguk, lalu duduk di sebelah ranjang rumah sakit
Kendall.
“Jadi Dokter Adrian itu
paman mu?” Tanya Kendall
“Yeah, dia kakak ayahku.”
Ujar Emma, Kendall mengangguk mengerti.
“Tidak tertarik menjadi
seorang aktris seperti bibimu?” Emma sedikit tertawa saat mendengar pertanyaan
Kendall yang seakan-akan seperti mewawancarainya.
“Tidak. Kami berbeda,
kau tahu? Sejak kecil aku jauh lebih dekat dengan Uncle Adrian, dan itu
membuatku mulai tertarik untuk menjadi Dokter. Alasan yang sederhana
sebenarnya, aku hanya ingin menyelamatkan oranglain dan tak ingin membuat
mereka kehilangan kesempatan hidup mereka seperti seseorang yang berharga bagiku.”
Kendall menatap gadis itu, Emma memandang keluar jendela, tatapannya berubah
menjadi sendu setelah mengatakan kalimat terakhir yang ia ucapkan.
“dan bagaimana dengan
kau sendiri? Aku tahu memiliki kelainan jantung sejak kau masih kecil itu tidak
mudah.” Ujar Emma, Kendall tersenyum dan mengangguk.
“Percaya atau tidak,
ayahku juga meninggal karena penyakit yang kuderita saat ini, dan Mom
memperhatikanku lebih dari semestinya. Kau tidak bisa hidup bebas seperti
oranglain, itu terkadang membuatku iri.” Ujar Kendall, Emma menatap sebentar
pria itu lalu menyandarkan tubuhnya.
“Kau tahu, dengan
kekuranganmu itu kau tetap sempurna.” Kendall tersenyum medengar ucapan spontan
yang di lontarkan oleh Emma.
“Aku tidak sebaik itu.
Bekerja sebagai Arsitek dengan kekurangan yang aku miliki membuatku merasa aku
hidup seperti ayahku. Aku pernah mencoba untuk hidup seperti orang normal dan
melupakan penyakitku, tapi yang ada malah aku harus kembali terbaring di sini.”
Ujarnya, Emma menggenggam tangannya membuat Kendall menoleh kearahnya.
“Percaya padaku. Aku
tak akan membiarkan mu terus berada dalam kondisi seperti itu.” ujar Emma,
Kendall balas menggenggam tangan Emma.
“Berikan aku satu
alasan kenapa kau begitu ingin membuatku berada dalam keadaan sehat? Kau tahu?
Bahkan dokter Adrian sudah hampir menyerah.” Ujar Kendall.
“Kau tahu? Aku dan
pamanku adalah dua karakter yang berbeda. Aku tak akan membiarkanmu mengalami
apa yang dialami ayahmu dan Dia.” Dia? satu pertanyaan mengganjal di benak
Kendall.
“Siapa yang kau maksud
‘Dia’?” Emma hanya menggeleng sebagai sebuah jawaban yang berarti dia enggan
membahasnya.
“Baiklah, aku tak akan
memaksa kalau begitu.” Ujar Kendall. Emma mengangguk dan kembali memandang
Alrojinya.
“ini sudah waktunya
untuk mu untuk istirahat.” Ujar Emma.
“Saat aku keluar dari
rumah sakit nanti, bisakah aku mengunjungimu lagi?” Pertanyaan itu membuat Emma
tersenyum kepadanya.
“Kapanpun kau mau, kau
bisa mengunjungiku.” Ujarnya
“Selamat beristirahat
kalau begitu, Kendall.” Emma meninggalkan ruang rawat milik Kendall dan kembali
keruangannya. Emma baru saja tiba dan menghela nafasnya saat melihat setumpuk
map berisi laporan kesehatan pasiennya yang harus ia kerjakan. Emma mengambil
satu persatu map itu dan mulai menuliskan semuanya di sana. Emma membaca
riwayat medis Kendall dan mempelajari semuanya, mengamati
perkembangan-perkembangan yang telah di tunjukkan pria itu. Gadis itu sedikit
tersenyum medapati kalau kondisi Kendall semakin membaik. Gadis itu mengambil
ponselnya dan mulai menghubungi seseorang di seberang sana.
****
Kendall sedikit
terkejut pagi ini mendapati Emma masuk keruangan rawatnya tanpa menggunakan jas
dokternya. Gadis itu hanya menggunakan hotpans Denim, kaus oblong putih dan
blaser berwarna biru tua dan sepasang heels hitam. Gadis itu berjalan sambil
tersenyum kearahnya, surai keemasannya ikut bergerak saat ia berjalan. Emma
memberikan Amplop putih kearahnya.
“Bukalah.” Ujarnya,
Kendall menatap Amplop itu dan Emma bergantian sebelum akhirnya membuka amplop
itu.
“Kau pasti bercanda!”
ujarnya, saat melihat laporan hasil pemeriksaannya yang terakhir.
“Dengar, aku dan Uncle
Adrian sepakat untuk memperbolehkanmu keluar dari rumah sakit ini. tapi kau
masih harus melakukan kontrol di sini.” Ujarnya, Kendall mengangguk mengerti
lalu memeluk Emma. Emma sedikit terkejut dengan perlakuan pria itu namun
akhirnya tetap membalas pelukkan pria itu.
“Thanks Ems!” Emma
hanya tersenyum dan mengangguk. Kendall melepaskan pelukkannya lalu menggandeng
tangan Emma dan membawanya keluar dari ruang rawatnya.
“Kita mau ke mana?”
Tanya Emma.
“Kau akan tahu nanti”
Hanya itu jawaban yang di lontarkan kendall untuknya, Emma hanya mendengus geli
mendengarnya.
Kendall menghentikan
mobilnya di pinggir Danau yang letaknya di pinggiran kota Los Angeles. Emma
masih tidak mengerti kenapa pria itu mengajaknya ke sini. Emma mengikuti
Kendall saat ia turun dari mobilnya. Gadis itu mengamati Kendall yang tengah
menghirup undara segar di sekitar danau itu, lalu duduk di atas rerumputan
hijau. Emma ikut duduk di sebelahnya dan memandang langit. Kalau Cory ada di
sini saat ini juga, apa dia akan marah kalau tahu Emma menghabiskan waktu
dengan Kendall? Salah satu Pasiennya yang tanpa ia sadari mampu menggeser
posisi Cory secara perlahan.
“Terimakasih telah
membantuku untuk tetap hidup.” Emma hanya mengangguk
“Boleh aku bertanya
sesuatu?” Emma menatap sebentar Kendall sebelum memnajawab.
“Yeah, tentu saja.”
Ujarnya, Kendall terlihat berfikir akan mengatakannya atau tidak.
“Siapa dia yang kau
ceritakan saat itu?” Emma terdiam sebentar mendengar pertanyaan Kendall.
“Montheith. Cory
Montheith.” Ujar Emma, kali ini Gadis itu menahan sebisa mungkin untuk menahan
air matanya.
“dia tunanganku,
meninggal sekitar lima tahun yang lau. Kesalahan fatal yang kulakukan saat itu
yang membuatnya meninggal.” Ujar Emma yang kini terlah menutup wajahnya dengan
kedua tangannya dan menangis putus asa.
“Aku melakukan Operasi
yang sama dengan yang ku lakukan padamu dan Operasi itu gagal. Operasi
pertamaku. Kau tahu? Aku berusaha agar dia tidak meninggalkan ku dan tetap
menikah denganku seperti rencana awal kami. Aku berharap agar dia tetap hidup
dan jantungnya tetap berdetak, tapi yang ku dengar saat itu bukan detak
jantungnya, melainkan alrm dari pendeteksi detak jantung yang terdengar seperti
lonceng kematian untukku.” Ujarnya dan kembali menangis putus asa.
“Kematian Cory… Semua
itu salahku, Kendall.”ujar Emma, Kendall mengerti sekarang. ini pertama kalinya
ia melihat gadis yang selalu tersenyum ceria di hadapannya menangis putus asa.
Kendall merangkulnya mencoba menenangkan Gadis yang berada dalam pelukannya.
“Kau tahu? Kalau Cory
mendengarku saat ini dia akan setuju dengan apa yang kukatakan saat ini. Kau
bisa membuat satu jantung berhenti berdetak, dan membuat hidupmu berhenti
berputar untuk waktu yang lama. Tapi tanpa kau sadari, kau juga sudah berhasil
membuat Jantung yang lainnya berdetak, dan jantung yang baru kau selamatkan
itu, dia akan membuat hidupmu kembali berputar.” Ujar Kendall, Emma menatapnya
masih tak mengerti dengan apa yang di katakan pria itu padanya.
“kau akan mengerti.
Kalau kau benar-benar sepintar yang di katakan Dokter Adrian.” Ujar Kendall
“kenapa membawaku
kesini?” Pertanyaan itu terlontar dari bibir Emma, Kendall tersenyum dan
menatap danau.
“Aku hanya ingin
membagi tempat rahasia miliku denganmu.” ujarnya, Emma menatap pria itu.
Kendall Schmindt benar-benar sulit untuk di tebak.
“tempat rahasia mu? ku
fikir ini tempat umum.” Kendall merebahkan tubuhnya diatas rerumputan dan
menatap ke langit,
“Dad yang memberi
tahuku tempat ini. tak banyak orang yang datang ke sini. Tempat ini begitu
tenang, benar-benar bisa membuatku nyaman dan melepaskan semua masalah yang
ada. Kau tahu? Terkadang aku merasa tak memiliki beban hanya dengan duduk di
sini dan memandang langit. Saat aku melihat ke sana, hal yang kulihat adalah
sekumpulan awan-awan itu seakan-akan membentuk wajah ayahku, dan itu membuat
rasa rinduku terobati. Kau bisa melakukannya kalau kau mau.” Ujar Kendall, Emma
mengikuti pria itu, ia membaringkan tubuhnya di rerumputan dan memandang ke
langit, hal pertama yang dilihatnya adalah Wajah Corry yang tersenyum
kepadanya.
Kendall mengantar Emma
sampai ke rumahnya. Keduanya saling terdiam dengan perasaan canggung saat
mereka sudah berada tepat di depan rumah Emma.
“Ingin mampir untuk
makan malam, mungkin?” Tanya Emma, Kendall terlihat menimbang-nimbang sebentar
sebelum memberikan Jawabannya
“Besok hari pertama aku
kembali bekerja, dan kau tahu soal Proyek itu. Jadi… Aku mungkin butuh banyak
istirahat malam ini.” ujar Kendall, Emma menghela nafasnya lalu membalikkan
badannya dan menatap kendall yang duduk di sebelahnya.
“Ingin berjanji satu
hal padaku?” Tanya Emma, Kendall mengangguk.
“aku mengerti dengan
apa yang kau maksud dengan hal yang kau ucapkan tadi. kalau aku memang yang
menyebabkan Jatung Cory berhenti berdetak, maka Jantung yang berhasil ku
selamatkan adalah jatung mu, aku tak hanya ingin kau membuat hidupku kembali
berputar, tapi aku juga ingin kau menjaganya, aku ingin… Jantung mu terus
berdetak untukku, ka uterus berada di sampingku.” Ujar Emma.
“Jaga dirimu. Aku yakin
setelah kesibukan mu kembali kau mungkin akan semakin jarang mengunjungiku ke
rumah sakit. Aku hanya tak ingin kau kembali ke keadaan yang lama. Jangan
terlalu lelah dan atur pola makan mu.” ujar Emma, Kendall mengangguk.
“Kalau begitu, aku
pulang dulu. Selamat malam.” Ujar Emma lalu gadis itu keluar dari mobilnya,
Kendall sempat melihat gadis itu sekali lagi saat ia membalikkan tubuhnya dan
tersenyum manis kearahnya sambil melambaikan tangannya.
Saat pintu rumah Emma
tertutup ia menyentuh bagian dada sebelah kirinya, merasakan detak jantungnya
jauh lebih cepat dari sebelumnya. Gadis itu. berhasil dengan sempurna membuat
jantung ini tetap berdetak untuknya. Kendall mengemudikan mobilnya meninggalkan
halaman depan rumah Emma.
*****
Emma hanya memandang
kehalaman belakang rumah sakit tempatnya bekerja, ia terus memandangi kursi
kosong di taman itu tempat dimana Kendall biasanya selalu duduk dan menggambar
desighn konstruksi gedungnya. Ini sudah lewat dua minggu sejak terakhir kali
mereka bertemu. Pamannya juga sudah kembali dari New Jersey dan mulai menangani
Kendall saat ia Check Up. Emma memutar balik kursinya saat seseorang memasuki
ruangannya. Gadis itu sedikit terkejut mendapati Kendall berdiri di hadapaunnnya
saat ini.
“Ada yang ingin ku
bicarakan denganmu, keberatan kalau kita makan siang bersama?” Tanya Kendall,
Emma menggeleng lalu menerima tawaran Kendall. Gadis itu menggantung Jas
Dokternya dan menggantinya dengan Blazer berawarna Cream miliknya dan setelah
itu mereka berdua memutuskan makan siang di restaurant bergaya Country Favorite
Emma.
“Aku berhasil
mendapatkan Proyek itu.” ujar Kendall saat tengah memakan Steaknya.
“Benarkah? Selamat
Kendall, itu bagus sekali.” Ujar Emma senang, Kendall tersenyum melihat gadis
itu memberikannya sebuah senyuman yang selama ini ia inginkan.
“yeah, tapi mungkin
saja ini hari terakhir kita bertemu sebelum aku berangkat ke Irlandia.” Emma
langsung menghentikan gerakan Sendok dan Garpu miliknya.
“Irlandia?” Tanya Emma,
Kendal menggenggam tangan Emma.
“Seandainya ada
seseornag yang ingin menggantikan posisi Cory untukmu, apa itu mungkin?” Emma
terkejut dengan pertanyaan Kendall, ia tahu akan mengarah kemana pembicaraan
ini sebenarnya.Kendall mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna biru panjang
dan menyerahkannya kepada Emma.
“Beri aku jawaban Dua
hari lagi. Temui aku di Danau waktu itu. kalau kau memakai Kalung itu berarti
mengijinkan aku untuk menggantikan posisi Cory tapi kalau tidak, aku akan
menunggumu selamanya.” Ujar Kendall, Emma mengambil kotak itu, Kendall melihat
Alrojinya sebentar lagi jam makan siang merka habis.
“Aku akan berangkat ke
Irlandia untuk menangani proyek itu selama dua tahun, jangan terlalu khawatir,
Dokter Adrian sudah mengizinkanku.” Ujar Kendall, Emma hanya menganggukkan
kepalanya dan mencoba bersikap normal.
Emma kembali kerumah
sakit setelah jam makan siangnya dengan Kendall selesai. Gadis itu duduk di
mejanya dan mengeluarkan kotak berwarna biru pemberian Kendall, Emma
memandangnya sebentar mencoba menebak apa yang berada didalamnya. Jemari
lentiknya meraih penutup kotak itu dan membukanya. Emma terkejut melihat sebuah
kalung di dalamnya. Gadis itu mengambilnya. Ia menghela nafasnya lalu memandang
kalung itu dan foto Cory bergantian.
******
Emma masih berjalan
mondar-mandir di ruangtamu rumahnya. Ia masih memikirkan jawaban apa yang harus
ia berikan kepada Kendall sekarang. Kendall akan segera berangkat hari ini, dan
dia masih ragu dengan jawaban yang ia simpan. Gadis itu duduk dan menatap putus
asa kearah ponsel dan kalung pemberian Kendall waktu itu yang tergeletak diatas
meja bergantian. Ia tak tahu harus bagaimana sekarang.
“Kalau kau ingin
memberi jawaban jangan pernah ragu dengan hal itu. keraguan hanya akan
membuatmu kehilangan mereka.” Emma mendongak dan mendapati ibunya berdiri di
hadapannya.
“Sudah waktunya bukan?
Ini sudah lima tahun sejak Cory meninggal, dan kau tahu itu bukan salahmu.
Berhenti untuk menutup hatimu. Sekarang ini Cobalah untuk membukanya untuk
Kendall. Biarkan dia menggantikan Cory dalam kehidupanmu.” Ujar Ibunya, Emma
mengambil ponsel dan memakai kalung itu lalu menyambar kunci mobilnya.
“Thanks, Mom. kau
selalu tahu bagaimana caranya menemukan jalan keluar untukku.” Ujar Emma. Gadis
itu berlari keluar rumah dan mengendarai mobilnya ke bandara.
Kendall memandang
sekali lagi alroji yang melingkar dengan sempurna di tangannya. Pria itu
memandang kearah pintu masuk bandara. Tinggal lima belas menit lagi dia akan
berangkat ke Irlandia tapi gadis itu belum muncul juga dan memberikannya sebuah
jawaban.
“Kendall…” Kendall
menoleh dan mendapati Logan menepuk bahunya.
“Pesawatnya akan
berangkat.” Ujar Logan, Kendall mengangguk mengerti lalu beranjak dari tempatnya
duduk. Sekali lagi ia memandang kearah pintu masuk bandara berharap gadis itu
ada disana. Kendall kembali menghela nafasnya saat ia sadar kalau gadis itu
mungkin tak akan datang. Kendall mengikuti Logan yang sudah berjalan di
depannya kearah petugas yang memeriksa tiket dan Paspor perjalanannya,
tiba-tiba saat ia memberikan tiketnya kearah petugas suara seseorang yang
sangat familiar di indra pendengarannya dapat ia dengar dengan jelas.
“Kendall!” Kendall
menoleh saat sekali lagi suara itu menyapanya. Kedua bola matanya membelalak
dengan sempurna saat mendapati Gadis yang di tunggunya sejak tadi berlari
kearahnya dan memeluknya.
“Emma…” Kendall
membalas pelukan itu, Emma melepaskan pelukannya dan menatap Kendall.
“Kau memakainya?” Ujar
kendall yang baru menyadari kalung yang ia berikan untuk Emma melingkar dengan
sempurna di leher jenjangnya.
“Ya, berjanjilah
satuhal untukku. Aku pernah membuat jantung Cory berhenti berdetak dan
kehilangan dia untuk selamanya, menutup diriku dari semua pria yang berusaha
untuk mendekatiku. Tapi hari ini, aku mencoba membukanya lagi untukmu. Aku
berhasil membuat jantung mu kembali berdetak sekali lagi, membuatmu memiliki
kesempatan kedua untuk hidup, jadi… jaga jantung itu, tetaplah berdetak untukku
dan jangan pernah tinggalkan aku.” ujarnya, Kendall tersenyum dan memeluknya
sekali lagi.
“Kalian sudah selesai?
Kendall lima belas menit lagi pesawat berangkat.” Ujar Logan, Kendall menatap
Emma sekali lagi.
“Aku akan menghubungimu
begitu aku tiba di Irlandia. Hanya dua tahun, setelah aku kembali aku berjanji
tak akan pergi jauh lagi dari mu.” ujar Kendall lalu mengecup keningnya
singkat.
“hmm…. Jaga dirimu di
sana, ingat apa yang di larang Uncle Adrian soal pola makan mu, dan sempatkan
waktu untuk istirahat jangan terlalu memaksakan diri, mengerti?” Kendall
mengacak surai ke-emasan Emma
“Yeah, aku tahu itu tak
perlu khawatir soal itu. kalau begitu aku pergi sekarang.” Kendall mengecup
kening Emma sekali lagi sebelum berbalik dan melambaikan tangannya sebelum ia
masuk kedalam pesawat. Emma memandang kearah pesawat yang membawa separuh
hating pergi ke Irlandia. Hanya dua tahun. Ia hanya perlu menunggu dua tahun
sampai Kendall kembali lagi untuknya.
Emma memandang kearah
langit dan tersenyum. Ini kah yang di inginkan Cory selama ini? Emma tersenyum,
Yeah… ini yang pria itu inginkan, Melihat Emma berhenti menyalahkan dirinya
sendiri atas kematiannya, dan mulai membuka hatinya untuk oranglain. Emma
berbalik saat pesawat yang ditumpangi Kendall sudah terbang jauh keangkasa dan
tak terlihat lagi. Kendall benar, ia pernah membuat jantung Cory berhenti
berdetak karena kesalahan fatal yang ia lakukan, dan hal itu membuat waktu
dalam kehidupannya seolah berheni berputar, tapi tanpa ia sadari, ia berhasil
membuat jantung milik Kendall kembali berdetak, dan Jantung milik pria itu
berdetak untuknya.
***The End***