Kamis, 17 Oktober 2013

Another Heart



Another Heart

“Mungkin kau pernah membuat jantung seseorang yang kau sayangi berhenti berdetak karena kesalahan mu, tapi tanpa kau sadari kau berhasil membuat jantung yang lainnya berdetak, dan jantung itu berdetak untukmu.
Aphrodite girl 13”

Cast : - Kendall Schmidt
        -Emma Roberts
 




            Hujan masih mengguyur kota Los Angeles, di saat semua orang jauh lebih memilih untuk diam di rumah mereka, duduk santai didepan perapian bersama keluarga mereka, maka lain halnya dengan gadis cantik yang kini tengah berlari menembus hujan di malam hari ini. Kedua kakinya berlari menyusuri jalan-jalan di kota Los Angles, dan menyebrang tanpa memperhatikan rambu lalu lintas yang ada. Beberapa makian kasar terlontar dari para pengemudi yang hampir saja menabrak tubuh rampingnya tapi yang dilakukan gadis itu adalah terus berlari dan menggumakan kata maaf berkali-kali tanpa menoleh.
            Kedua tangannya menahan pintu kaca rumah sakit besar yang hampir saja tertutup dan segera masuk. Beberapa orang menyapanya tapi tak di hiraukannya, bunyi ponselnya kembali berdering membuatnya menganggkatnya tanpa menghentikan langkahnya.
            “Aku tahu, kalian siapkan saja ruang operasinya, iya… Dokter Wales, aku sudah sampai di rumah sakit, sebentar lagi aku kesana.” Ujar Gadis muda yang di ketahui sebagai Dokter spesialis jantung ini. Sebenarnya dia jauh lebih memilih untuk berada di depan perapiannya yang hangat saat ini dari pada harus repot-repot datang kerumah sakit ini, tapi mau bagaimana lagi? ia terpaksa harus melakukan operasi mendadak malam ini juga menggantikan pamannya yang berhalangan, bukan hanya itu mobil miliknya pun mogok di tengah jalan membuatnya terpaksa harus berlari menembus hujan agar bisa tiba di sini.
            “Dokter Robert…” Emma mengangguk singkat menanggapi sapaan asistent kepercayaannya sebelum masuk keruang gantinya dan mengganti pakaiannya.
            Emma sedikit terkejut saat melihat wajah pasiennya, ia masih terlalu muda untuk seorang yang memiliki penyakit jantung, tapi kalau tidak salah  pamannya mengatakan padanya kalau pasiennya ini menderita kelainan jantung sejak ia lahir. Malang sekali.
            “Dokter anda siap?” Tanya Asistennya, Emma hanya mengangguk dan mulai melakukan operasi itu, semoga saja ia berhasil kali ini.
            Lebih dari dua belas jam operasi itu berjalan, Emma bisa merasakan kalau keringatnya semakin banyak, ia tetap fokus pada operasi kali ini, berharap kalau setidaknya untuk kali ini ia akan berhasil menyelamatkan nyawa pria ini, Gadis itu berharap kalau ia tak akan mendengar suara mengerikan dari alat pendeteksi detak jantungnya, ia benar-benar tak ingin mendengar lonceng kematian itu berbunyi sekali lagi. semua ini, Pria ini dan operasi yang dia lakukan saat ini, berhasil mengingatknanya kepada seseorang yang pergi karena kesalahan fatal yang pernah ia lakukan.
Gadis itu menggeleng terus menyakinkan pada dirinya sendiri kalau ia tak akan pernah membuat kesalahan yang sama. Emma tersenyum di balik maskernya, dan menghela nafas lega, operasi berjalan lebih dari dua belas jam dan dia berhasil. Pria in

i selamat. Emma menatap sekilas kearah Pasiennya sebelum menghilang meninggalkan ruang operasi.
Emma masuk keruang rawat pria itu dan memeriksa keadaannya, Gadis itu mencatat sesuatu kedalam Map berwarna hijau yang di berikan seorang suster padanya, Setelah suster itu keluar gadis itu masih terdiam di sebelah ranjang pasiennya menatap wajahnya, otaknya kembali mengingat memori yang telah lama ia tutup rapat, kembali, Pria ini mengingatkan Emma kepada sosok dirinya.
            “Kau tahu, kalau saja aku bisa menyelamatkannya saat itu dia pasti sudah sembuh seperti dirimu, kau beruntung kau memiliki semangat hidup yang lebih besar darinya. Aku sudah berusaha keras menyelamatkan mu, jadi aku berharap kau akan sembuh dalam tahap pemulihan nanti.” Emma kembali menatap Pria itu sebentar sebelum pergi meninggalkan ruang rawat itu saat suster yang menemaninya memanggilnya.
            Kendall membuka matanya, pemandangan pertama yang ia lihat adalah atap ruang rawatnya. Jadi dia selamat setelah semalam tiba-tiba dia tak sadarkan diri lagi? sial, padahal dia sudah siap kalau dia harus mati saat itu juga, lagi pula siapa yangakan peduli? Ia hanya akan membuat ibunya Khawatir setiap waktu, dan itu membuatnya merasa bersalah. Pintu ruangan rawatnya terbuka dan masuk ibunya bersama seorang wanita bersurai ke-emasan, ia menggunakan Jas dokter, Kendall tak yakin kalau Dokter perempuan ini adalah dokter yang menanganinya, Pasalnya dokter spesialis jantung yang menanganinya adalah Dokter Ruppert Wales, dan Dokter Adrian Robert.
            “Kau sudah sadar? Syukurlah…” Kendall hanya bisa diam terpaku saat ibunya menghambur memeluknya dan menangis di dalam pelukannya.
            “Aku fikir kau tidak akan selamat.” Ujarnya, Kendall menghela nafasnya, apa dia bilang? Inilah yang membuatnya selama ini selalu merasa bersalah, selalu membuat ibunya merasa khawatir seperti ini. Pandangan Kendall beralih kearah Gadis yang tengah tersenyum melihatnya dan ibunya.
            “Anda dokter yang menanganiku?” Tanya Kendall, Gadis itu tersenyum lalu mengulurkan tangannya.
            “Emma Robert. kau bisa memanggil ku Emma kalau kau mau, tak perlu begitu formal, Usia kita sama.”ujarnya, Kendall menyambut uluran tangan gadis itu.
            “Kendall saja kalau begitu.” Ujarnya singkat, Emma tersenyum dan mulai mengambil Map berisi recap medis milik Kendall. Lalu mulai memeriksa keadaan pria itu.
            “Kau masih perlu banyak istirahat, usahakan untuk tidak memikirkan terlalu banyak masalah.” Ujarnya, Kendall mengangguk tapi sedetik kemudian ia ingat sesuatu.
            “Bisa aku keluar rumah sakit minggu ini?” Ujarnya, Emma mengalungkan Stetoscop kelehernya dan memandang heran pemuda di depannya.
            “Aku sangat ragu untuk hal itu Kendall, kau masih perlu menjalani beberapa perawatan sebagai tahan pemulihan sebelum boleh keluar dari sini.” Ujar Emma.
            “ada beberapa Sketsa konsruksi gedung yang belum aku selesaikan, proyek itu bernilai milyaran US dolar dan aku harus menyelesaikannya minggu ini juga.” Emma mendesah mendengar perkataan laki-laki itu.
            “Kita lihat perkembanganmu nanti. Tapi ku sarankan supaya kau memberikan tugas itu ke-assistant mu, kau belum boleh keluar dari rumah sakit minggu ini. itu hanya saranku, Kendall. Kau bisa fikirkan itu baik-baik.” Ujar Emma, Kendall memandang kesal gadis di hadapannya. Dia hanya seorang dokter yang merawatnya dan itu bukan berarti dia bisa mengatur hidupnya.
            Emma meninggalkan ruangan Kendall dan langsung memeriksa beberapa Pasien berikutnya. Saat ia kembali keruangannya, ponselnya berdering.
            “Ada apa Uncle?” Ujarnya    
            “Aku dengan kau melakukan operasi dadakan semalam, Bagaimana Hasilnya?” Emma mendengus geli mendengar pertanyaan pamannya di tambah dengan nada khawatir yang belebihan.
            “dia baik-baik saja. Operasinya beralan lancar. Kau tidak perlu setakut itu.” ujarnya, Emma tersenyum tipis saat mendengar pamannya menghela nafas lega.
            “Pastikan kalau dia tidak boleh keluar dari rumah sakit sampai minggu depan, Emma. Aku akan berada sedikit lebih lama di New Jersey.” Emma menghela nafasnya sebelum meng-iyakan perintah pamannya.
            “aku tahu.” Ujarnya sebelum memutus sambungan telfonnya.
            Emma memutus sambungan telfonya, Gadis itu memutar kursi yang di dudukinya hingga ia memandang taman belakang rumah sakit dari dalam ruangannya di lantai dua. Gadis itu memangku wajahnya dan menatap lurus kearah suatu objek yang ada di sana. Kendall yang tengah menggambar sesuatu di sana, Emma tidak bisa melihatnya dengan Jelas. Emma menghela nafasnya sebelum memutar balik kursinya dan melangkah keluar ruangannya. Jadwal prakteknya bukan hanya di rumah sakit ini saja. Gadis itu menatap sebentar kearah Kendall yang masih menggambar di taman belakangan rumah sakit. Pria itu. Mengingatkan Emma sekali lagi kepadanya. Kepada seseorang yang meninggalkannya karena kesalahan fatal yang ia buat.
            ****
            Pagi ini Emma kembali mengunjungi Kendall diruangan rawatnya ini sudah lebih dari lima hari dia menangani pria itu. Emma tersenyum kecil melihat perkembangan yang bagus dari pria itu, dia kembali menuliskan sesuatu dalam map berwarna hijau yang berisi Catatan Medis milik Kendall lalu menyerahkannya kepada seorang Suster yang membantunya.
            “Kalau kau tetap menunjukkan kemajuan seperti ini, aku rasa aku bisa saja mengizinkan mu untuk keluar dari rumah sakit minggu ini.” Ujar Emma, Kendall tersenyum padanya.
            “apa kau masih banyak pasien hari ini?” Tanya Kendall, Emma memandang alroji milik nya dan menggeleng.
            “Ada apa?” Tanya Emma.
            “kau bisa tinggal di sini sebentar? Aku rasa aku tetarik untuk mengenalmu. Sebagai teman tentu saja.” Ujarnya, Emma mengangguk, lalu duduk di sebelah ranjang rumah sakit Kendall.
            “Jadi Dokter Adrian itu paman mu?” Tanya Kendall
            “Yeah, dia kakak ayahku.” Ujar Emma, Kendall mengangguk mengerti.
            “Tidak tertarik menjadi seorang aktris seperti bibimu?” Emma sedikit tertawa saat mendengar pertanyaan Kendall yang seakan-akan seperti mewawancarainya.
            “Tidak. Kami berbeda, kau tahu? Sejak kecil aku jauh lebih dekat dengan Uncle Adrian, dan itu membuatku mulai tertarik untuk menjadi Dokter. Alasan yang sederhana sebenarnya, aku hanya ingin menyelamatkan oranglain dan tak ingin membuat mereka kehilangan kesempatan hidup mereka seperti seseorang yang berharga bagiku.” Kendall menatap gadis itu, Emma memandang keluar jendela, tatapannya berubah menjadi sendu setelah mengatakan kalimat terakhir yang ia ucapkan.
            “dan bagaimana dengan kau sendiri? Aku tahu memiliki kelainan jantung sejak kau masih kecil itu tidak mudah.” Ujar Emma, Kendall tersenyum dan mengangguk.
            “Percaya atau tidak, ayahku juga meninggal karena penyakit yang kuderita saat ini, dan Mom memperhatikanku lebih dari semestinya. Kau tidak bisa hidup bebas seperti oranglain, itu terkadang membuatku iri.” Ujar Kendall, Emma menatap sebentar pria itu lalu menyandarkan tubuhnya.
            “Kau tahu, dengan kekuranganmu itu kau tetap sempurna.” Kendall tersenyum medengar ucapan spontan yang di lontarkan oleh Emma.
            “Aku tidak sebaik itu. Bekerja sebagai Arsitek dengan kekurangan yang aku miliki membuatku merasa aku hidup seperti ayahku. Aku pernah mencoba untuk hidup seperti orang normal dan melupakan penyakitku, tapi yang ada malah aku harus kembali terbaring di sini.” Ujarnya, Emma menggenggam tangannya membuat Kendall menoleh kearahnya.
            “Percaya padaku. Aku tak akan membiarkan mu terus berada dalam kondisi seperti itu.” ujar Emma, Kendall balas menggenggam tangan Emma.
            “Berikan aku satu alasan kenapa kau begitu ingin membuatku berada dalam keadaan sehat? Kau tahu? Bahkan dokter Adrian sudah hampir menyerah.” Ujar Kendall.
            “Kau tahu? Aku dan pamanku adalah dua karakter yang berbeda. Aku tak akan membiarkanmu mengalami apa yang dialami ayahmu dan Dia.” Dia? satu pertanyaan mengganjal di benak Kendall.
            “Siapa yang kau maksud ‘Dia’?” Emma hanya menggeleng sebagai sebuah jawaban yang berarti dia enggan membahasnya.
            “Baiklah, aku tak akan memaksa kalau begitu.” Ujar Kendall. Emma mengangguk dan kembali memandang Alrojinya.
            “ini sudah waktunya untuk mu untuk istirahat.” Ujar Emma.
            “Saat aku keluar dari rumah sakit nanti, bisakah aku mengunjungimu lagi?” Pertanyaan itu membuat Emma tersenyum kepadanya.
            “Kapanpun kau mau, kau bisa mengunjungiku.” Ujarnya
            “Selamat beristirahat kalau begitu, Kendall.” Emma meninggalkan ruang rawat milik Kendall dan kembali keruangannya. Emma baru saja tiba dan menghela nafasnya saat melihat setumpuk map berisi laporan kesehatan pasiennya yang harus ia kerjakan. Emma mengambil satu persatu map itu dan mulai menuliskan semuanya di sana. Emma membaca riwayat medis Kendall dan mempelajari semuanya, mengamati perkembangan-perkembangan yang telah di tunjukkan pria itu. Gadis itu sedikit tersenyum medapati kalau kondisi Kendall semakin membaik. Gadis itu mengambil ponselnya dan mulai menghubungi seseorang di seberang sana.
            ****
            Kendall sedikit terkejut pagi ini mendapati Emma masuk keruangan rawatnya tanpa menggunakan jas dokternya. Gadis itu hanya menggunakan hotpans Denim, kaus oblong putih dan blaser berwarna biru tua dan sepasang heels hitam. Gadis itu berjalan sambil tersenyum kearahnya, surai keemasannya ikut bergerak saat ia berjalan. Emma memberikan Amplop putih kearahnya.
            “Bukalah.” Ujarnya, Kendall menatap Amplop itu dan Emma bergantian sebelum akhirnya membuka amplop itu.
            “Kau pasti bercanda!” ujarnya, saat melihat laporan hasil pemeriksaannya yang terakhir.
            “Dengar, aku dan Uncle Adrian sepakat untuk memperbolehkanmu keluar dari rumah sakit ini. tapi kau masih harus melakukan kontrol di sini.” Ujarnya, Kendall mengangguk mengerti lalu memeluk Emma. Emma sedikit terkejut dengan perlakuan pria itu namun akhirnya tetap membalas pelukkan pria itu.
            “Thanks Ems!” Emma hanya tersenyum dan mengangguk. Kendall melepaskan pelukkannya lalu menggandeng tangan Emma dan membawanya keluar dari ruang rawatnya.
            “Kita mau ke mana?” Tanya Emma.
            “Kau akan tahu nanti” Hanya itu jawaban yang di lontarkan kendall untuknya, Emma hanya mendengus geli mendengarnya.
            Kendall menghentikan mobilnya di pinggir Danau yang letaknya di pinggiran kota Los Angeles. Emma masih tidak mengerti kenapa pria itu mengajaknya ke sini. Emma mengikuti Kendall saat ia turun dari mobilnya. Gadis itu mengamati Kendall yang tengah menghirup undara segar di sekitar danau itu, lalu duduk di atas rerumputan hijau. Emma ikut duduk di sebelahnya dan memandang langit. Kalau Cory ada di sini saat ini juga, apa dia akan marah kalau tahu Emma menghabiskan waktu dengan Kendall? Salah satu Pasiennya yang tanpa ia sadari mampu menggeser posisi Cory secara perlahan.
            “Terimakasih telah membantuku untuk tetap hidup.” Emma hanya mengangguk
            “Boleh aku bertanya sesuatu?” Emma menatap sebentar Kendall sebelum memnajawab.
            “Yeah, tentu saja.” Ujarnya, Kendall terlihat berfikir akan mengatakannya atau tidak.
            “Siapa dia yang kau ceritakan saat itu?” Emma terdiam sebentar mendengar pertanyaan Kendall.
            “Montheith. Cory Montheith.” Ujar Emma, kali ini Gadis itu menahan sebisa mungkin untuk menahan air matanya.
            “dia tunanganku, meninggal sekitar lima tahun yang lau. Kesalahan fatal yang kulakukan saat itu yang membuatnya meninggal.” Ujar Emma yang kini terlah menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan menangis putus asa.
            “Aku melakukan Operasi yang sama dengan yang ku lakukan padamu dan Operasi itu gagal. Operasi pertamaku. Kau tahu? Aku berusaha agar dia tidak meninggalkan ku dan tetap menikah denganku seperti rencana awal kami. Aku berharap agar dia tetap hidup dan jantungnya tetap berdetak, tapi yang ku dengar saat itu bukan detak jantungnya, melainkan alrm dari pendeteksi detak jantung yang terdengar seperti lonceng kematian untukku.” Ujarnya dan kembali menangis putus asa.
            “Kematian Cory… Semua itu salahku, Kendall.”ujar Emma, Kendall mengerti sekarang. ini pertama kalinya ia melihat gadis yang selalu tersenyum ceria di hadapannya menangis putus asa. Kendall merangkulnya mencoba menenangkan Gadis yang berada dalam pelukannya.
            “Kau tahu? Kalau Cory mendengarku saat ini dia akan setuju dengan apa yang kukatakan saat ini. Kau bisa membuat satu jantung berhenti berdetak, dan membuat hidupmu berhenti berputar untuk waktu yang lama. Tapi tanpa kau sadari, kau juga sudah berhasil membuat Jantung yang lainnya berdetak, dan jantung yang baru kau selamatkan itu, dia akan membuat hidupmu kembali berputar.” Ujar Kendall, Emma menatapnya masih tak mengerti dengan apa yang di katakan pria itu padanya.
            “kau akan mengerti. Kalau kau benar-benar sepintar yang di katakan Dokter Adrian.” Ujar Kendall
            “kenapa membawaku kesini?” Pertanyaan itu terlontar dari bibir Emma, Kendall tersenyum dan menatap danau.
            “Aku hanya ingin membagi tempat rahasia miliku denganmu.” ujarnya, Emma menatap pria itu. Kendall Schmindt benar-benar sulit untuk di tebak.
            “tempat rahasia mu? ku fikir ini tempat umum.” Kendall merebahkan tubuhnya diatas rerumputan dan menatap ke langit,
            “Dad yang memberi tahuku tempat ini. tak banyak orang yang datang ke sini. Tempat ini begitu tenang, benar-benar bisa membuatku nyaman dan melepaskan semua masalah yang ada. Kau tahu? Terkadang aku merasa tak memiliki beban hanya dengan duduk di sini dan memandang langit. Saat aku melihat ke sana, hal yang kulihat adalah sekumpulan awan-awan itu seakan-akan membentuk wajah ayahku, dan itu membuat rasa rinduku terobati. Kau bisa melakukannya kalau kau mau.” Ujar Kendall, Emma mengikuti pria itu, ia membaringkan tubuhnya di rerumputan dan memandang ke langit, hal pertama yang dilihatnya adalah Wajah Corry yang tersenyum kepadanya.
            Kendall mengantar Emma sampai ke rumahnya. Keduanya saling terdiam dengan perasaan canggung saat mereka sudah berada tepat di depan rumah Emma.
            “Ingin mampir untuk makan malam, mungkin?” Tanya Emma, Kendall terlihat menimbang-nimbang sebentar sebelum memberikan Jawabannya
            “Besok hari pertama aku kembali bekerja, dan kau tahu soal Proyek itu. Jadi… Aku mungkin butuh banyak istirahat malam ini.” ujar Kendall, Emma menghela nafasnya lalu membalikkan badannya dan menatap kendall yang duduk di sebelahnya.
            “Ingin berjanji satu hal padaku?” Tanya Emma, Kendall mengangguk.
            “aku mengerti dengan apa yang kau maksud dengan hal yang kau ucapkan tadi. kalau aku memang yang menyebabkan Jatung Cory berhenti berdetak, maka Jantung yang berhasil ku selamatkan adalah jatung mu, aku tak hanya ingin kau membuat hidupku kembali berputar, tapi aku juga ingin kau menjaganya, aku ingin… Jantung mu terus berdetak untukku, ka uterus berada di sampingku.” Ujar Emma.
            “Jaga dirimu. Aku yakin setelah kesibukan mu kembali kau mungkin akan semakin jarang mengunjungiku ke rumah sakit. Aku hanya tak ingin kau kembali ke keadaan yang lama. Jangan terlalu lelah dan atur pola makan mu.” ujar Emma, Kendall mengangguk.
            “Kalau begitu, aku pulang dulu. Selamat malam.” Ujar Emma lalu gadis itu keluar dari mobilnya, Kendall sempat melihat gadis itu sekali lagi saat ia membalikkan tubuhnya dan tersenyum manis kearahnya sambil melambaikan tangannya.
            Saat pintu rumah Emma tertutup ia menyentuh bagian dada sebelah kirinya, merasakan detak jantungnya jauh lebih cepat dari sebelumnya. Gadis itu. berhasil dengan sempurna membuat jantung ini tetap berdetak untuknya. Kendall mengemudikan mobilnya meninggalkan halaman depan rumah Emma.
            *****
            Emma hanya memandang kehalaman belakang rumah sakit tempatnya bekerja, ia terus memandangi kursi kosong di taman itu tempat dimana Kendall biasanya selalu duduk dan menggambar desighn konstruksi gedungnya. Ini sudah lewat dua minggu sejak terakhir kali mereka bertemu. Pamannya juga sudah kembali dari New Jersey dan mulai menangani Kendall saat ia Check Up. Emma memutar balik kursinya saat seseorang memasuki ruangannya. Gadis itu sedikit terkejut mendapati Kendall berdiri di hadapaunnnya saat ini.
            “Ada yang ingin ku bicarakan denganmu, keberatan kalau kita makan siang bersama?” Tanya Kendall, Emma menggeleng lalu menerima tawaran Kendall. Gadis itu menggantung Jas Dokternya dan menggantinya dengan Blazer berawarna Cream miliknya dan setelah itu mereka berdua memutuskan makan siang di restaurant bergaya Country Favorite Emma.
            “Aku berhasil mendapatkan Proyek itu.” ujar Kendall saat tengah memakan Steaknya.
            “Benarkah? Selamat Kendall, itu bagus sekali.” Ujar Emma senang, Kendall tersenyum melihat gadis itu memberikannya sebuah senyuman yang selama ini ia inginkan.
            “yeah, tapi mungkin saja ini hari terakhir kita bertemu sebelum aku berangkat ke Irlandia.” Emma langsung menghentikan gerakan Sendok dan Garpu miliknya.
            “Irlandia?” Tanya Emma, Kendal menggenggam tangan Emma.
            “Seandainya ada seseornag yang ingin menggantikan posisi Cory untukmu, apa itu mungkin?” Emma terkejut dengan pertanyaan Kendall, ia tahu akan mengarah kemana pembicaraan ini sebenarnya.Kendall mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna biru panjang dan menyerahkannya kepada Emma.
            “Beri aku jawaban Dua hari lagi. Temui aku di Danau waktu itu. kalau kau memakai Kalung itu berarti mengijinkan aku untuk menggantikan posisi Cory tapi kalau tidak, aku akan menunggumu selamanya.” Ujar Kendall, Emma mengambil kotak itu, Kendall melihat Alrojinya sebentar lagi jam makan siang merka habis.
            “Aku akan berangkat ke Irlandia untuk menangani proyek itu selama dua tahun, jangan terlalu khawatir, Dokter Adrian sudah mengizinkanku.” Ujar Kendall, Emma hanya menganggukkan kepalanya dan mencoba bersikap normal.
            Emma kembali kerumah sakit setelah jam makan siangnya dengan Kendall selesai. Gadis itu duduk di mejanya dan mengeluarkan kotak berwarna biru pemberian Kendall, Emma memandangnya sebentar mencoba menebak apa yang berada didalamnya. Jemari lentiknya meraih penutup kotak itu dan membukanya. Emma terkejut melihat sebuah kalung di dalamnya. Gadis itu mengambilnya. Ia menghela nafasnya lalu memandang kalung itu dan foto Cory bergantian.
            ******
            Emma masih berjalan mondar-mandir di ruangtamu rumahnya. Ia masih memikirkan jawaban apa yang harus ia berikan kepada Kendall sekarang. Kendall akan segera berangkat hari ini, dan dia masih ragu dengan jawaban yang ia simpan. Gadis itu duduk dan menatap putus asa kearah ponsel dan kalung pemberian Kendall waktu itu yang tergeletak diatas meja bergantian. Ia tak tahu harus bagaimana sekarang.
            “Kalau kau ingin memberi jawaban jangan pernah ragu dengan hal itu. keraguan hanya akan membuatmu kehilangan mereka.” Emma mendongak dan mendapati ibunya berdiri di hadapannya.
            “Sudah waktunya bukan? Ini sudah lima tahun sejak Cory meninggal, dan kau tahu itu bukan salahmu. Berhenti untuk menutup hatimu. Sekarang ini Cobalah untuk membukanya untuk Kendall. Biarkan dia menggantikan Cory dalam kehidupanmu.” Ujar Ibunya, Emma mengambil ponsel dan memakai kalung itu lalu menyambar kunci mobilnya.
            “Thanks, Mom. kau selalu tahu bagaimana caranya menemukan jalan keluar untukku.” Ujar Emma. Gadis itu berlari keluar rumah dan mengendarai mobilnya ke bandara.
            Kendall memandang sekali lagi alroji yang melingkar dengan sempurna di tangannya. Pria itu memandang kearah pintu masuk bandara. Tinggal lima belas menit lagi dia akan berangkat ke Irlandia tapi gadis itu belum muncul juga dan memberikannya sebuah jawaban.
            “Kendall…” Kendall menoleh dan mendapati Logan menepuk bahunya.
            “Pesawatnya akan berangkat.” Ujar Logan, Kendall mengangguk mengerti lalu beranjak dari tempatnya duduk. Sekali lagi ia memandang kearah pintu masuk bandara berharap gadis itu ada disana. Kendall kembali menghela nafasnya saat ia sadar kalau gadis itu mungkin tak akan datang. Kendall mengikuti Logan yang sudah berjalan di depannya kearah petugas yang memeriksa tiket dan Paspor perjalanannya, tiba-tiba saat ia memberikan tiketnya kearah petugas suara seseorang yang sangat familiar di indra pendengarannya dapat ia dengar dengan jelas.
            “Kendall!” Kendall menoleh saat sekali lagi suara itu menyapanya. Kedua bola matanya membelalak dengan sempurna saat mendapati Gadis yang di tunggunya sejak tadi berlari kearahnya dan memeluknya.
            “Emma…” Kendall membalas pelukan itu, Emma melepaskan pelukannya dan menatap Kendall.
            “Kau memakainya?” Ujar kendall yang baru menyadari kalung yang ia berikan untuk Emma melingkar dengan sempurna di leher jenjangnya.
            “Ya, berjanjilah satuhal untukku. Aku pernah membuat jantung Cory berhenti berdetak dan kehilangan dia untuk selamanya, menutup diriku dari semua pria yang berusaha untuk mendekatiku. Tapi hari ini, aku mencoba membukanya lagi untukmu. Aku berhasil membuat jantung mu kembali berdetak sekali lagi, membuatmu memiliki kesempatan kedua untuk hidup, jadi… jaga jantung itu, tetaplah berdetak untukku dan jangan pernah tinggalkan aku.” ujarnya, Kendall tersenyum dan memeluknya sekali lagi.
            “Kalian sudah selesai? Kendall lima belas menit lagi pesawat berangkat.” Ujar Logan, Kendall menatap Emma sekali lagi.
            “Aku akan menghubungimu begitu aku tiba di Irlandia. Hanya dua tahun, setelah aku kembali aku berjanji tak akan pergi jauh lagi dari mu.” ujar Kendall lalu mengecup keningnya singkat.
            “hmm…. Jaga dirimu di sana, ingat apa yang di larang Uncle Adrian soal pola makan mu, dan sempatkan waktu untuk istirahat jangan terlalu memaksakan diri, mengerti?” Kendall mengacak surai ke-emasan Emma
            “Yeah, aku tahu itu tak perlu khawatir soal itu. kalau begitu aku pergi sekarang.” Kendall mengecup kening Emma sekali lagi sebelum berbalik dan melambaikan tangannya sebelum ia masuk kedalam pesawat. Emma memandang kearah pesawat yang membawa separuh hating pergi ke Irlandia. Hanya dua tahun. Ia hanya perlu menunggu dua tahun sampai Kendall kembali lagi untuknya.
            Emma memandang kearah langit dan tersenyum. Ini kah yang di inginkan Cory selama ini? Emma tersenyum, Yeah… ini yang pria itu inginkan, Melihat Emma berhenti menyalahkan dirinya sendiri atas kematiannya, dan mulai membuka hatinya untuk oranglain. Emma berbalik saat pesawat yang ditumpangi Kendall sudah terbang jauh keangkasa dan tak terlihat lagi. Kendall benar, ia pernah membuat jantung Cory berhenti berdetak karena kesalahan fatal yang ia lakukan, dan hal itu membuat waktu dalam kehidupannya seolah berheni berputar, tapi tanpa ia sadari, ia berhasil membuat jantung milik Kendall kembali berdetak, dan Jantung milik pria itu berdetak untuknya.
***The End***
           




Tidak ada komentar:

Posting Komentar